Sabtu, 19 Desember 2015

puisi ayah



Ayah
Dulu...ketika aku kecil
Polos, imut juga menggemaskan
Kau selalu mangajarkanku untuk berani
Mengajarkanku untuk hidup mandiri
Serta mengajarkanku menjadi anak yang berbakti
Hingga sebuah kalimat telah bersarang dikelapaku
berbaur menjadi jadi satu dalam aliran darahku
 “adik, dapat nilai berapa di sekolah hari ini???”
“adik, selalu belajar dengan baik ya, agar cita-citamu tercapai”
Sungguh menyenangkan mendengar kalimat itu
Terucap dari mulutmu ....ayah
Kini, dikala aku mulai dewasa
akupun berubah menjadi singa yang siap memangsa
Nakal, egois bahkan acuh tak acuh
Wow...betapa senangnya hati ini menjadi orang dewasa
Hanya kata bebas terlintas dibenakku
Tuhan apa yang terjadi pada diri ini?
Tuhan, kenapa kenakalan hamba harus mengorbankan orang lain?”
“tuhan,kenapa engkau mengambil ayah?”
“Tuhan,apakah ini teguran buat hamba?
Kenapa wajah ayah tak hadir dalam hidupku lagi?
Kemana perginya wajah itu,tuhan???

Tetesan air mata selalu mengiri dalam setiap sujudku
Memohon padamu tuhan,tempatkanlah ayah di sisimu

Sekarang akupun hanya bisa menyesali
Kepergian ayah
Karena sekian lama aku tak berbuat baik padanya
Sampai akhir hayatnya
Namun, seiring berjalannya waktu,
Hari-hariku mulai sepi tanpa kehadirannya
Tidak ada lagi sesosok ayah yang bisa menyemati
Diri dikala putus asa
Tidak ada lagi sosok ayah yang bisa menghiburku dikala sedih
Dan tidak ada lagi sesosok ayah yang bisa menjadi panutan dalam keluarga.

Ayah aku rindu padamu...!!!

Hanya selembar foto yang kau tinggalkan
Namun Selembar foto ini tak bisa mengobati rasa rinduku terhadapmu
Ayah semoga engaku tenang disisinya. Amiin yarabbal allamiin.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar