Ayah
Dulu...ketika
aku kecil
Polos,
imut juga menggemaskan
Kau
selalu mangajarkanku untuk berani
Mengajarkanku
untuk hidup mandiri
Serta
mengajarkanku menjadi anak yang berbakti
Hingga
sebuah kalimat telah bersarang dikelapaku
berbaur
menjadi jadi satu dalam aliran darahku
“adik, dapat nilai berapa di sekolah hari
ini???”
“adik,
selalu belajar dengan baik ya, agar cita-citamu tercapai”
Sungguh
menyenangkan mendengar kalimat itu
Terucap
dari mulutmu ....ayah
Kini,
dikala aku mulai dewasa
akupun
berubah menjadi singa yang siap memangsa
Nakal,
egois bahkan acuh tak acuh
Wow...betapa
senangnya hati ini menjadi orang dewasa
Hanya
kata bebas terlintas dibenakku
Tuhan
apa yang terjadi pada diri ini?
Tuhan,
kenapa kenakalan hamba harus mengorbankan orang lain?”
“tuhan,kenapa
engkau mengambil ayah?”
“Tuhan,apakah
ini teguran buat hamba?
Kenapa
wajah ayah tak hadir dalam hidupku lagi?
Kemana
perginya wajah itu,tuhan???
Tetesan
air mata selalu mengiri dalam setiap sujudku
Memohon
padamu tuhan,tempatkanlah ayah di sisimu
Sekarang
akupun hanya bisa menyesali
Kepergian
ayah
Karena
sekian lama aku tak berbuat baik padanya
Sampai
akhir hayatnya
Namun,
seiring berjalannya waktu,
Hari-hariku
mulai sepi tanpa kehadirannya
Tidak
ada lagi sesosok ayah yang bisa menyemati
Diri
dikala putus asa
Tidak
ada lagi sosok ayah yang bisa menghiburku dikala sedih
Dan
tidak ada lagi sesosok ayah yang bisa menjadi panutan dalam keluarga.
Ayah
aku rindu padamu...!!!
Hanya
selembar foto yang kau tinggalkan
Namun
Selembar foto ini tak bisa mengobati rasa rinduku terhadapmu
Ayah
semoga engaku tenang disisinya. Amiin yarabbal allamiin.