Minggu, 06 Maret 2022

Puisi- percakapan kompeni dan nona pribumi

 Kompeni:


 3 abad aku menapaki bumi pertiwimu.

Berbagai huru hara,

Problematika,membabi buta hingga kesengsaraan jadi santapanmu.


Hartamu kuserobot. 

Emas, nikel, batu bara, rempah-rempah.

Kau tak berkutik,  kau tak mau merebutnya.

Sungguh kasian!! Daya laksana selembar tisu yang mudah terbakar.


Aku serakah!!! Itulah aku.itulah aku yang kau sebut kampeni belanda.


Nona pribumi

"Lancang lisanmu berucap. Sungguh tak tau malu.merenggut...!

Bukan hakmu, namun tetap kau agungkankan. 


Kompeni

"Lantas, apa dayamu. merontakpun percuma.

Lihatlah. Aku punya senapan. Siap nembus kepalamu...

Dor...dor...dos.....hahahaha, kalau saya mau.


Nona


Cukup .cukup cukup....hengkangkan kakimu di bumi pertiwiku

Lihatlah!ujung bambu tajam Ini. 

Bambu siap mengoyak tumbuhmu

Hingga Kuteriakkan semboyan


"Merdeka atau mati"


Kompeni


Terkutuk.....

Beraninya kau....


Nona


Selama mentari terbit di ufuk timur

Di sana itu pula, semangatku berkobar


Aku takkan berhenti sedetik pun

Menyelamatkan melindungi dan mempertahankan

Walaupun hingga aku menyatu dengan tanah negeriku


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar